Kamis, 28 Januari 2016

KISAH NYANTRINYA Hatim AL ASHOM Kepada SYAQIQ AL Balkhi



Dalam ihya’ ulumuddin kitabul ilm diterangkan :

روي عن حاتم الأصم، تلميذ شقيق البلخي رضي الله عنهما أنه قال له شقيق: “مُنْذُ كَمْ صحبتَنِي؟،

قال حاتم: “منذُ ثلاثٍ وثلاثين سنةً”، قال: “فَمَا تَعَلَّمْتَ مِنِّي في هذه المدة؟”، قال: “ثَماني مَسَائِلَ”، قال شقيق له: “إنا لله وإنا إليه راجعون، ذَهَبَ عُمْرِي مَعَكَ ولَم تَتَعَلَّمْ إِلاَّ ثَمَانِيَ مَسَائِلَ؟!”، قال: “يا أستاذُ، لَمْ أَتَعَلَّمْ غَيْرَهَا. وَإِنِّي لاَ أُحِبُّ أَنْ أَكْذِبَ”، فقال: “هَاتِ هَذِهِ الثَّمَانِي مسائلَ حَتَّى أَسْمَعَهَا”، قال حاتم: “نظرتُ إلى هذا الخلقِ فَرَأَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ يُحِبُّ مَحْبُوْبًا، فَهُوَ مَعَ مَحْبُوْبِهِ إِلَى القَبْرِ. فَإِذَا وَصَلَ إِلَى القَبْرِ فَارَقَهُ. فَجَعَلْتُ الحَسَنَاتِ مَحْبُوْبِي. فَإِذَا دَخَلْتُ القَبْرَ دَخَلَ مَحْبُوبي مَعِي”، فَقَالَ: “أَحْسَنْتَ يَا حَاتِمُ، فَمَا الثَّانِيَةُ؟”

فقال: “نظرتُ فِي قول الله عز وجل: “وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الهَوَى فَإِنَّ الجَنَّةَ هِيَ المَأْوَى”، فَعَلِمْتُ أَنَّ قولَه سبحانه وتعالى هُوَ الحَقُّ، فَأَجْهَدْتُ نَفْسِي فِي دَفْعِ الهَوَى حَتَّى اسْتَقَرْتُ على طاعةِ اللهِ تعالى؛

الثالثةُ أني نظرتُ إلى هذا الخلقِ فرأيتُ كلّ ممن معه شيءٌ له قيمةٌ ومقدارٌ رَفَعَه وَحَفِظَهُ، ثم نظرتُ إلى قول الله عز وجل: “مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ”. فَكلما وقع معي شيءٌ له قيمةٌ ومقدارٌ وَجَّهْتُهُ إلى الله لِيَبْقَى عِنْدَه محفوظا؛

الرابعة أني نظرت إلى هذا الخلق فرأيت كلَّ واحدٍ منهم يرجِعُ إلى المالِ، وإلى الحسب، والشرف، والنسب، فنظرتُ فيها فإذا هي لا شيءَ، ثم نظرتُ إلى قول الله تعالى: “إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ”، فعملتُ فِي التَّقْوَى حتى أكونَ عند الله كريما؛

الخامسة أني نظرتُ إلى هذا الخلق، وهم يَطْعُن بعضُهم في بعضٍ ويُلْعِن بعضُهم بعضا. وأصلُ هذا كله الحسدُ، ثم نظرتُ إلى قول الله عز وجل: “نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيْشَتَهُمْ فِي الحَيَاةِ الدُّنْيَا”، فتركتُ الحسدَ وَاجْتَنَبْتُ الخلقَ وَعَلِمْتُ أَنَّ القسمةَ مِن عِنْدِ اللهِ سبحانه وتعالى، فَتَرَكْتُ عَدَاوَةَ الخلقِ عَنِّي؛

السادسة نظرتُ إلى هذا الخلقِ يَبْغِي بَعْضُهم على بعضٍ وَيُقَاتِل بعضُهم بعضا، فرجعتُ إلى قول الله عز وجل: “إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا”، فعاديتُه وحدَه وَاجْتَهَدْتُ فِي أَخذ حذري منه لأن اللهَ تعالى شهِد عليه أَنَّهُ عَدُوٌّ لِي، فَتَرَكْتُ عَدَاوَةَ الخَلْقِ غَيْرَهُ؛

السابعة نظرتُ إلى هذا الخلقِ فَرَأَيْتُ كلَّ واحدٍ منهم يطلب هذه الكسرةَ فَيذِلُّ فِيها نفسه ويدخل فيما لا يَحِلُّ له، ثم نظرتُ إلى قوله تعالى: “وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا”، فَعَلِمْتُ أني واحدٌ من هذه الدوابِ الَّتِي على الله رزقُها، فاشتغلتُ بما لله تعالى عليَّ وَتَرَكْتُ ما لي عنده؛

الثامنة نظرت إلى هذا الخلق فرأيتُهم كلَّهم مُتَوَكِّلِينَ على مخلوقٍ: هذا على ضَيْعَته، وهذا على تِجَارتِه، وهذا على صِنَاعته، وهذا على صحة بَدَنِه. وكل مخلوق متوكل على مخلوقٍ مثلَه. فرجعت إلى قوله تعالى: “وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ”، فتوكلتُ على الله عز وجل فهو حسبي.

قال شقيق: “يا حاتم، وفقك الله تعالى…”

[الإمام الغزالي، إحياء علوم الدين، كتاب العلم]



===



Terjemah:

Syaqiq al-Balkhi bertanya Kepada muridnya, Hatim al-Asham:

"Berapa lama kamu nyantri kepadaku?" Hatim Menjawab: "Sudah sejak 33 Tahun ..." Syaqiq bertanya Lagi: "Apa Yang kamu pelajari dariku selama ITU?" Hatim Menjawab: "Ada Delapan perkara ..." Syaqiq Berkata: "Inna lillahi wa inna ilayhi raji'un. Aku habiskan umurku bersamamu selama ITU, Dan kamu TIDAK belajar kecuali Delapan perkara ?! "Hatim Menjawab:" Guru, Aku Tidak belajar selainnya. Sungguh Aku Tidak bohong ... "Syaqiq kemudian Berkata Lagi:" Coba Jelaskan kepadaku APA Yang Sudah kamu pelajari ... "Hatim Menjawab:

"Pertama, Saya memperhatikan Manusia, Dan Saya lihat masing-masing mereka menyukai kekasihnya Hingga KE kuburannya. TAPI ketika dia Sudah Sampai di kuburnya, kekasihnya justru berpaling darinya ... Maka Saya kemudian menjadikan amal Kebaikan SEBAGAI kekasih Saya, Yang apabila Saya Meninggal Dan MASUK KE liang Kubur, dia akan Ikut Bersama Saya ... Syaqiq Berkata: "Pinter kamu Hatim. Sekarang APA Yang Kedua? "

Kedua, Saya memperhatikan firman Allah Ta'ala: Orang yang takut Tuhan dan melarang jiwa gairah, surga adalah tempat tinggal (Dan adapun orangutan Yang Takut PADA kebesaran Tuhannya Dan Menahan Diri Dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya surgalah Tempat Tinggal (nya).) [QS An-Nazi'at (79): 40-41] Maka Saya ketahui bahwa firman Allah-lah yang Benar. KARENA ITU Saya meneguhkan Diri Saya hearts menolak hawa nafsu, Hingga Saya Mampu menetapi ketaatan Kepada Allah Ta'ala.

Ketiga, Saya memperhatikan Manusia, Dan Saya amati masing-masing memiliki Sesuatu Yang Berharga, Yang dia menjaganya agar Barang tersebut TIDAK Hilang. Kemudian Saya membaca firman Allah Ta'ala: Apa yang harus Anda kehabisan dan ketika Allah tetap (Apa Yang ADA di sisimu akan lenyap Dan APA Yang ADA di Sisi Allah Kekal) [QS An-Nahl (16): 96] Dari situ apabila Saya memiliki Sesuatu Yang Berharga, Maka Segera Saja Saya serahkan Kepada Allah, agar milikku Terjaga Bersamanya TIDAK Hilang.

Keempat, Saya memperhatikan Manusia dan Saya ketahui masing-masing mereka membanggakan harta, leluhur Kemuliaan, pangkat Dan nasabnya. Kemudian Saya membaca firman Allah Ta'ala: Melihat Allah (Sesungguhnya orangutan Yang memucat mulia di ANTARA Kalian di Sisi Allah Adalah orangutan Yang memucat bertakwa di ANTARA Kalian) [QS Al-Hujurat (49): 13] Maka Saya takwa, Hingga menjadikan Saya mulia di Sisi Allah Ta'ala.

Kelima, Saya memperhatikan Manusia, Dan (Saya industri tahu) mereka mencela Dan mencaci ANTARA Satu DENGAN Yang lainnya. Saya industri tahu masalah utamanya here Adalah Sifat iri hati. Maka Saya kemudian membaca firman Allah Ta'ala: Kami dibagi hidup di antara mereka dalam kehidupan ini (Kami Telah menentukan pembagian nafkah Hidup di ANTARA mereka hearts Kehidupan Dunia) [Surat az-Zukhruf (43): 32] Maka Saya kemudian menanggalkan Sifat iri hati Dan menghindar Dari Manusia, KARENA Saya industri tahu bahwa pembagian rizki ITU Benar-Benar Dari Allah Ta'ala, Yang menjadikanku TIDAK Patut memusuhi Dan iri Kepada orangutan lain.

Keenam, Saya memperhatikan Manusia, Yang mereka saling menganiaya Dan memerangi ANTARA Satu DENGAN Yang lainnya. Kemudian Saya Melihat hal firman Allah Ta'ala: Iblis Anda musuh sehingga memperlakukan dia sebagai musuh (Sesungguhnya setan ITU Adalah Musuh Bagi Kalian, Maka anggaplah besarbesaran Musuh (Kalian).) [Surat Fathir (35): 6] Maka kemudian Saya menghindar Dari memusuhi orangutan berbaring , Dan sebaliknya Saya berusaha Fokus Dan Penuh Waspada hearts Menghadapi permusuhan syaitan.

Ketujuh, Saya memperhatikan Manusia, Maka Saya lihat masing-masing menghinakan Diri Sendiri mereka hearts Mencari rizki. Bahkan ADA di ANTARA mereka Yang Berani menerjang HAL-HAL Yang TIDAK halal. Saya kemudian Melihat hal ditunjukan kepada firman Allah Ta'ala: Tidak ada makhluk di bumi namun sebuah Allah yang hidup (Dan TIDAK ADA Satu Binatang melata pun di bumi Suami melainkan Allah-lah Yang menanggung rizkinya) [Surat Hud (11): 6] Saya kemudian menyadari bahwa Saya Adalah shalat Satu Dari Binatang Yang Allah Telah menanggung rizkinya. Maka Saya kemudian menyibukkan DENGAN APA Yang Telah Allah kepadaku anugerahkan, Dan sebaliknya Saya Meninggalkan apa-APA Yang TIDAK dibagikan kepadaku.

Kedelapan, Saya memperhatikan Manusia, Dan Saya lihat masing-masing mereka menyerahkan Diri Kepada Makhluk berbaring seumpamanya: sebagian KARENA sawah ladangnya, sebagian KARENA perniagaannya, sebagian KARENA hasil temuan karya produksinya, Dan sebagian berbaring KARENA kesehatan badannya. Maka Saya Melihat hal ditunjukan kepada firman Allah Ta'ala: Ini adalah untuk percaya pada Tuhan akan cukup (Dan barangsiapa bertawakkal Kepada Allah niscaya Ia akan mencukupi (Keperluan) -nya.) [QS Al-Thalaq (65): 3] Maka Saya kemudian menyerahkan Diri Dan mempercayakan Semuanya Kepada Allah Ta'ala, Karena Dia akan mencukupi Segala keperluanku.

#sumber:

https://www.facebook.com/notes/pengajian-nahwu-dan-tasawuf/150-kisah-hatm-al-ashom-dan-gurunya-syaqiq-al-balkhy-kisah-shufi/467856806599394